Jangan Kau Salah Menilai – 4 Jenis Transaksi Trading

Kebanyakan trader berpikir bahwa transaksi dalam trading itu hanya ada dua yaitu: transaksi untung dan transaksi rugi.

Rata-rata trader hanya berpikir sedangkal itu.

Sebenarnya transaksi dalam trading itu ada 4 jenis yakni:

  1. Transaksi Untung
  2. Transaksi Rugi
  3. Transaksi yang Baik
  4. Transaksi yang Buruk

Anda tahu kapan kekacauan dimulai?

Ketika trader memberikan penilaian seperti ini:

Transaksi Untung = Transaksi yang Baik

Transaksi Rugi = Transaksi yang Buruk

Jika Anda termasuk trader yang mengamini persamaan di atas, ya tidak heran Anda selalu merugi dan uang Anda habis terus selama trading.

Kenapa?

Karena itu tandanya Anda tidak mampu memilah mana transaksi baik dan mana transaksi buruk karena Anda hanya FOKUS MELIHAT pada hasil akhir!

 

Harusnya Anda sudah paham bahwa trading itu permainan peluang.

Trading is a game of probability.

Semua kemungkinan bisa terjadi.

Anda trading ngawur 5 kali? Anda bisa untung 5 kali.

Anda trading disiplin 10 kali? Anda bisa rugi beruntun10 kali.

Hasil jangka pendek sering sekali mengecoh banyak trader.

Jadi menilai suatu transaksi itu baik atau buruk hanya dari untung rugi adalah cara terburuk dalam menilai transaksi!

 

Transaksi yang baik bisa mengalami kerugian. Dan sebaliknya.

Hanya karena transaksi yang Anda ambil berakhir dengan keuntungan bukan berarti itu transaksi yang baik.

“HALAH OMONG KOSONG KAU! YANG PENTING PROFIT!!!” demikianlah kira-kira jeritan hati Anda.

“UNTUNG YA UNTUNG AJA! RUGI YA RUGI AJA! GAK USAH PAKE ACARA DIKELOMPOKIN LAGI! TAMBAH PUSING INI!” hati Anda masih tetap teriak.

Kalo gitu mari kita cari tahu.

Omongan saya memang omong kosong atau omongan setengah kosong (jadi gak kosong-kosong amat).

Mari kita analisa masing-masing kombinasi dari ke-4 jenis transaksi tersebut.

 

MEMAHAMI SECARA MENDALAM 4 JENIS TRANSAKSI TRADING

  1. Transaksi Buruk yang Untung

Inilah jenis transaksi trading yang PALING BERBAHAYA.

Kenapa paling berbahaya?

Karena Anda mendapatkan “hadiah” berupa profit atas tindakan ngawur yang Anda lakukan!

Dan itu akan membuat Anda trading semakin ngawur!

Karena hasil trading Anda berakhir dengan keuntungan, Anda meyakinkan diri Anda bahwa “trading ngasal itu gak apa-apa” yang penting untung.

Anda melatih diri Anda untuk bertindak sembrono YANG PENTING UNTUNG.

Apakah kesembronoan dalam trading akan membawa Anda pada kesuksesan?

MIMPI!

Jika Anda trading asal-asalan dan hasilnya untung, kebiasaan trading ngasal itu akan semakin kuat menempel dalam diri Anda dan KEBIASAAN ITU AKAN SANGAT SUSAH UNTUK DILEPASKAN!

Transaksi buruk yang untung ini sering terjadi pada trader-trader pemula. Termasuk saya dulu. Saya menganggap trading itu mudah karena trading ngasal aja untung!

Saya dulu berkata dalam hati saya, “Enak benar trading. Belum punya skill trading aja bisa untung cepat. Bisa cepat kaya ini mah..”

Tentulah ada sudah paham sekali kemana cerita diatas berakhir.

BANGKRUT SODARA-SODARA!

Melakukan transaksi yang buruk setiap kali trading seperti bom waktu. Hanya tinggal menunggu waktunya saja kapan hari sial datang dan menghancurkan semuanya.

 

Ceritanya kira-kira begini:

Transaksi 1

Anda beli saham karena “feeling” Anda bilang harganya akan naik. Harga sahamnya naik dan Anda menutup transaksi dengan keuntungan. Lalu Anda berkata dalam diri Anda, “Tuh kan! Harga sahamnya naik, feeling gua berarti benar! Gak perlu pake strategi-strategi trading!”

 

Transaksi 2

Karena transaksi yang pertama berakhir dengan keuntungan Anda semakin yakin.

Lalu Anda mencari saham yang berpotensi naik, masih tetap seperti transaksi yang pertama Anda kembali mengandalkan ‘feeling” Anda sebagai petunjuk beli. Tapi kali ini agak berbeda. Jika kemarin Anda cuma beli 100 Lot saham. Kali ini Anda ingin beli 500 Lot saham biar untung lumayan. Lalu Anda beli sahamnya sebanyak 500 lot dan harga sahamnya naik dan Anda untung besar.

Anda kembali berkata pada diri Anda, “Mantap! Kalo gini terus bisa kaya cepat ini. Asyik bener. Apa itu money management? Gak perlulah itu.”

 

Transaksi 3

Transaksi 1 mengabaikan sistem trading hasilnya untung.

Transaksi 2 mengabaikan sistem trading dan mengabaikan money management Anda untung juga.

Transaksi 3? Anda semakin mantap untuk melakukan hal yang sama untuk mengulangi kesuksesan Anda di dua transaksi sebelumnya.

Anda sudah memantau saham-saham incaran yang Anda yakin harganya akan terbang ke bulan! Karena Anda sudah “dapat feelingnya” lalu Anda beli dan benar saja harganya naik dengan sangat cepat, dan membuat rekening trading Anda “gemuk” seketika.

Lagi, Anda memberikan pujian pada diri Anda, “Ah, easy money! Kenapa saya gak trading dari dulu aja? Gampang banget ini mah!”

 

Transaksi 4

Anda telah menutup tiga transaksi dengan kemenangan gemilang. Anda mengasumsikan ketiga transaksi tersebut adalah transaksi terbaik dalam hidup Anda karena telah ditutup dengan keuntungan yang maknyus.

Apalagi?

Lanjutlah.

Pada transaksi ke-empat Anda beli saham lagi dengan jumlah lot lebih besar. Tapi kali ini “feeling Anda meleset”. Sahamnya tidak naik malah turun dan Anda pada posisi rugi. Anda tidak mau cutloss karena Anda yakin itu hanya “penurunan sementara”. Lalu Anda melakukan averaging down. Pada saat membuka transaksi Anda membeli 1000 lot, sekarang Anda tambah 1000 lot lagi diharga lebih murah!

Sekarang Anda memiliki 2000 lot saham dan perlahan-lahan harga sahamnya naik dan transaksi ke-4 inipun ditutup dengan kemenangan besar.

Dari pengalaman ini Anda belajar bahwa kalo rugi tidak perlu cutloss cukup averaging down dengan jumlah lot yang lebih besar. Anda mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang cutloss adalah orang-orang ‘goblog” yang gak paham kalo saham harganya “pasti naik lagi”.

 

Transaksi 5

Trading tanpa sistem trading Anda untung, trading tanpa money management yang benar Anda untung, trading tanpa risk management yang tepat Anda masih untung juga, trading sesuka hati Anda masih untung terus!

Kemudian Anda mulai menyakinkan diri Anda bahwa Andalah trader pilihan itu!

Andalah The Choosen One!

Anda yakin bahwa Anda terlahir untuk menjadi salah satu trader terhebat sepanjang masa.

Andalah si Raja Midas. Apapun yang Anda sentuh jadi emas. Apapun yang Anda beli harganya naik!

Dengan bermodalkan keyakinan tersebut Anda membuka transaksi ke 5 dengan penuh percaya diri tingkat tinggi!

Ada saham yang sudah Anda pantau dan dengan “sedikit penelitian digabungkan dengan feeling Anda sebagai trader handal” Anda yakin harga saham perusahaan ini akan naik juga. Anda tidak mau menyia-nyiakan peluang emas ini, Anda menyiapkan “amunisi” untuk ngeborong saham ini.

Lalu sahamnya Anda beli. Begitu Anda beli sahamnya turun. Walaupun Anda rugi, Anda tidak mau cutloss, Anda melakukan averaging down. Ternyata sahamnya makin turun, Anda tetap ngotot harga sahamnya pasti naik, lalu Anda averaging down. Sahamnya turun terus dan rugi Anda sudah membengkak, tetapi Anda berkeyakinan penurunan tersebut cuma sementara dan ini adalah saat yang tepat untu membeli lebih banyak dan Anda menggunakan semua sisa uang Anda untuk membeli saham tersebut.

Tapi sayangnya saham yang Anda beli itu malah terjun bebas kayak perosotan anak TK.

Uang Anda sudah habis, semua keuntungan Anda hilang tak berbekas, kerugian Anda justru malah membengkak.

Kemudian Anda menyesali semua kebodohan yang telah Anda lakukan. Dari berpikir Anda adalah salah satu trader terhebat sepanjang masa, menjadi berpikir Anda adalah trader paling goblok dan paling sial di dunia.

Anda bertanya-tanya, “Apa yang terjadi? Kok bisa? Apa yang salah?”

Anda tidak menyadari bahwa keuntungan-keuntungan jangka yang Anda peroleh hanya hasil acak, dan Anda terkecoh dengan Hukum Bilangan Besar (The Law of Large Number).

Familiar dengan kisah diatas?

Ya kita semua pernah mengalaminya.

Kita melakukan hal-hal bodoh ketika trading dan kita untung. Yang semakin membuat kita melakukan tindakan-tindakan bodoh lainnya, yang pada akhirnya membawa kita kepada kerugian besar dan penyesalan.

 

  1. Transaksi Buruk yang Rugi

Pada jenis transaksi ini banyak trader yang belajar untuk “KAPOK”.

Kenapa?

Karena begitu melakukan tindakan ngaco dan sembrono saat trading langsung dikasih ganjaran yang setimpal. Yakni berupa kerugian sebagai tamparan keras bahwa kita telah melakukan hal yang salah.

Transaksi buruk yang rugi sangat diperlukan oleh setiap trader. Karena transaksi jenis inilah yang memberikan efek “nyetrum” pada trader. Efek nyetrum ini yang akan membuat trader jera untuk membuat kesalahan yang sama.

Contoh:

Anda trading pake feeling. Anda beli sahamnya dan ternyata transaksinya berakhir dengan kerugian. Lalu Anda menyadari bahwa Anda tidak boleh trading pake feeling dan harus menggunakan sistem trading.

Anda trading forex full margin. Harga forex pair yang Anda beli bergerak melawan posisi Anda dan Anda langsung rugi besar karena Anda pake leverage tidak dengan cara yang benar. Lalu Anda menyadari bahwa pake margin secara ngawur saat trading forex bisa membawa pada kebangkrutan.

Anda trading tanpa stop loss. Ternyata dengan trading tanpa stop loss kerugian Anda bertambah besar. Lalu Anda menyadari bahwa Anda harus trading dengan stop loss untuk menghindari kerugian besar.

Anda sangat yakin akan prediksi Anda, lalu Anda beli saham dengan semua uang yang Anda miliki. Ternyata Anda salah dan Anda rugi besar. Lalu Anda menyadari, tidak peduli seberapa besar keyakinan Anda terhadap prediksi harga kemana akan bergerak, Anda harus menghitung Position Sizing yang tepat tiap transaksi agar tidak bangkrut.

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari transaksi buruk yang rugi.

Transaksi buruk yang rugi hanya akan menjadi pelajaran berharga bagi trader yang mau memperbaiki kesalahan.

Kebanyakan trader justru malah ngotot.

Sudah transaksinya buruk, rugi pula dan tetap ngeyel!

Banyak sekali trader yang sudah tahu trading pake “feeling” memberikan hasil yang mengecewakan, tapi masih tetap ngotot trading pake acara nebak-nebak dan bukannnya malah membangun sistem trading yang profitable.

Banyak trader yang mengetahui bahwa mengambil terlalu banyak risiko dalam satu transaksi bisa berakhir dengan kebangkrutan, tapi masih tetap ngotot pake margin secara sembrono ketika trading!

Banyak trader yang sudah bolak-balik rugi besar karena trading tanpa stop loss, malah tetap tidak mau pake stop loss.

Transaksi buruk yang rugi itu sangat perlu terutama untuk menggapar trader-trader bebal yang suka ngeyel kalo dibilangin. Semakin ngotot ya gamparannya semakin keras!

 

  1. Transaksi Baik yang Untung

Anda trading menggunakan sistem trading yang memiliki positive expectancy. Sebelum trading Anda sudah membuat trading plan untuk transaksi trading tersebut.

Anda sudah menghitung risk dan money management sebelum Anda masuk dalam transaksi tersebut. Diharga berapa Anda akan cut loss, diharga berapa Anda akan take profit dan berapa banyak saham yang akan Anda beli semua sudah dalam perencanaan Anda.

Begitu sistem trading Anda memberikan sinyal beli, Anda beli tanpa ragu-ragu.

Ternyata harga sahamnya bergerak naik, Anda tetap tenang memantau pergerakan harga saham tersebut hingga sistem trading Anda memberikan sinyal jual baru Anda jual.

Transaksi saham kali ini berakhir dengan keuntungan.

Dan Anda bangga pada diri Anda sendiri bukan karena keuntungan yang Anda peroleh tetapi karena Anda berhasil melewati proses trading yang benar secara disiplin dan konsisten!

Good Job!

 

  1. Transaksi Baik yang Rugi

Transaksi baik yang rugi prosesnya berasal sama persis dari transaksi baik yang untung.

Anda trading menggunakan sistem trading yang memiliki positive expectancy. Sebelum trading Anda sudah membuat trading plan untuk transaksi trading tersebut.

Anda sudah menghitung risk dan money management sebelum Anda masuk dalam transaksi tersebut. Diharga berapa Anda akan cut loss, diharga berapa Anda akan take profit dan berapa banyak saham yang akan Anda beli semua sudah dalam perencanaan Anda.

Begitu sistem trading Anda memberikan sinyal beli, Anda beli tanpa ragu-ragu.

Ternyata harga sahamnya bergerak turun dan menyentuh level stop loss yang telah Anda tentukan, sistem trading Anda memberikan sinyal jual dan Anda langsung cut loss tanpa pikir dua kali dan move on.

Anda menutup transaksi ini dengan kerugian.

Kerugian kecil yang terukur.

Anda bangga pada diri Anda sendiri karena Anda paham bahwa kerugian adalah bagian dari trading dan dengan cut loss Anda paham bahwa Anda mengontrol kerugian dan tidak membiarkan kerugian membengkak.

Salah satu ciri utama dari transaksi baik yang rugi adalah rugi kecil.

Bahkan jika Anda cut loss 10 kali beruntun, 10 transaksi tersebut merupakan transaksi baik yang rugi YANG MERUPAKAN BAGIAN DARI DISTRIBUSI MENANG KALAH YANG DIBERIKAN OLEH SISTEM TRADING ANDA.

Tugas Anda hanya mengeksekusi sistem trading Anda secara disiplin dan konsisten. Karena Anda tidak pernah tahu mana transaksi yang akan berakhir dengan kemenangan dan mana transaksi yang akan berakhir dengan kerugian.

Anda paham bahwa trading adalah permainan jangka panjang, selama proses berjalan Anda mengetahui bahwa Anda akan mengalami serangkaian kerugian beruntun. Selama transaksinya hanya berakhir dengan kerugian-kerugian kecil itu tidak menjadi masalah bagi Anda.

Anda mengetahui expectancy yang diberikan oleh sistem trading Anda, Anda paham cara kerja The Law of Large Number, Anda menyadari setelah 100 transaksi atau lebih, sistem trading yang Anda gunakan akan memberikan hasil yang positif jika dijalankan secara konsisten.

Anda tidak memiliki masalah untuk cut loss. Karena Anda sudah berdamai dengan kerugian. Kerugian-kerugian yang Anda alami ketika trading tidak memberikan dampak yang siginifikan pada modal trading Anda.

 

Berikut ini yang membedakan antara transaksi trading yang baik dengan transaksi trading yang buruk tanpa melihat hasil akhir untung atau rugi:

  • Transaksi yang baik diambil berdasarkan sistem trading yang memiliki positive expectancy. Transaksi yang buruk diambil berdasarkan opini, feeling dan tebak-tebakan.
  • Transaksi yang baik entry dengan penuh kedisplinan dan position size yang benar. Transaksi yang buruk diambil karena ingin balas dendam dari kerugian.
  • Transaksi yang baik entry hanya jika sistem trading Anda memberikan sinyal beli. Transaksi yang buruk diambil karena Anda “takut ketinggalan kereta” atau FOMO (Fear of Missing Out).
  • Transaksi yang baik diambil berdasarkan trading plan yang sudah Anda buat. Transaksi yang buruk diambil berdasarkan ego dan emosi sesaat.
  • Transaksi yang baik diambil dengan penuh keyakinan dan tanpa konflik internal. Transaksi yang buruk diambil dengan penuh keragu-raguan.
  • Transaksi yang baik diambil setelah mengidentifikasi dan trading with the trend. Transaksi yang buruk diambil dan fight the trend.
  • Transaksi yang baik diambil karena Anda memahami instrument finansial yang Anda tradingkan. Transaksi yang buruk diambil karena Anda hanya ikut-ikutan saja.
  • Transaksi yang baik hanya merisikokan 1% dari total modal tiap transaksi. Transaksi yang buruk tidak memiliki satuan risiko yang jelas.
  • Transaksi yang baik merisikokan sedikit untuk memperoleh banyak. Transaksi yang buruk merisikokan banyak uang untuk sedikit profit.
  • Transaksi yang baik dijalankan secara konsisten walaupun sedang berada dalam periode kerugian. Transaksi yang buruk tidak dijalankan secara konsisten karena takut rugi.
  • Transaksi yang baik memiliki risiko terbatas dengan potensi keuntungan yang tidak terbatas. Transaksi buruk memiliki potensi keuntungan terbatas dan kerugian tanpa batas!
  • Transaksi yang baik diambil berdasrkan optimum position size yang benar tiap transaksi. Transaksi yang buruk diambil karena butuh uang.

Jika Anda rasa penjelasan diatas terlalu panjang dan malah mirip pasal-pasal KUHP maka kita rangkum saja dalam satu kalimat dibawah ini:

Semua transaksi trading yang tidak berdasarkan Sistem Trading yang memiliki Positive Expectancy dan tidak berdasarkan hitungan Risk dan Money Management yang benar ADALAH TRANSAKSI YANG BURUK!

Anda harus berusaha untuk tidak melakukan transaksi yang buruk ketika trading apapun hasil transaksinya. Anda tidak boleh lagi tergoda untuk melakukan transaksi buruk yang untung!

Untuk bisa profit konsisten semua transaksi yang Anda ambil haruslah transaksi yang baik yang di dalamnya meliputi:

  • Untung kecil
  • Untung besar
  • Impas
  • Rugi kecil

Anda lihat?

Memperoleh profit konsisten tidak sesulit itu sebenarnya. Anda cuma perlu mengeliminasi rugi besar dan peluang Anda untuk bisa profit konsisten terbuka dengan sangat lebar!

Untuk bisa profit konsisten Anda juga harus memahami Hukum Rata-Rata (The Law of Average) yang akan saya bahas di artikel berikutnya.

Dengan memahami Hukum Rata-Rata Anda akan mengetahui kenapa transaksi yang rugi bisa termasuk dalam kategori transaksi yang baik. Dan kenapa Anda harus fokus melakukan transaksi yang baik walaupun transaksinya rugi.

Jika selama hidup Anda jadi trader Anda akan melakukan 10.000 transaksi maka 10.000 transaksi tersebut harus merupakan transaksi yang baik.

“APA??? 10.000 TRANSAKSI?? KEBANYAKAN!!”

Oke. Bagaimana jika Anda fokus melakukan 1000 transaksi yang baik?

“1000 TRANSAKSI?? MASIH KEBANYAKAN WOY!!”

Oke. Bagaimana jika Anda fokus melakukan 100 transaksi yang baik?

“100 transaksi masih kebanyakan, tapi boleh dicoba.”

Bagaimana jika Anda fokus melakukan 10 transaksi yang baik?

Jika itu masih terasa agak sulit, bagaimana jika fokus Anda saat ini adalah melakukan SATU TRANSAKSI TRADING YANG BAIK?

O-N-E  G-O-O-D  T-R-A-D-E

 

Good Luck!

Enjoy the process and have good trading habits!

5 comments

  1. Setelah lama menunggu, akhirnya muncul artikel terbaru nya, Bagus dan Mantab artikel nya, Terimakasih Pak Lukas, Sehat dan Sukses Selalu.

    1. ALhamdulillah.ini kita dapet sharing ilmu baru pak..semoga semakin baik cara kita trading dengan sadar dan baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *